Budaya Pandhulungan berkembang luas di wilayah eks karesidenan Besuki. Budaya Pandhulungan adalah percampuran antara budaya Madura dan budaya Jawa menjadi budaya baru. Masyarakat memiliki dwi bahasa dalam artian pemakai bahasa Madura dapat pula berbahasa Jawa dan sebaliknya. Dalam bidang kesenian, seni Pandhulungan bercirikan budaya Madura sekaligus budya Jawa. Salah satu contohnya adalah seni topeng Madura. Wayang topeng Madura yang semula menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa pentas, kemudian berubah dengan adanya tari remo sebagai awal pementasan, dan penggunaan bahasanya campuran antara bahasa Madura dan bahasa Jawa.
Salah satu faktor penyebab munculnya budaya Pandhulungan adalah komposisi migran Madura dan migran Jawa yang berimbang. Menurut kajian sejarah yang dilakukan Arifin (2006) migrasi besar-besaran ke kawasan eks karesidenan Besuki, khususnya ke wilayah Jember dan sekitarnya dipicu oleh pertumbuhan kota Jember. Pertumbuhan kota Jember mulai berkembang pesay sejak akhir abad 19 setelah dibangunnya sarana jalan darat dan jalur kereta api menuju Jember. Pembukaan sarana transportasi ini adalah konsekwensi dari dibukanya semakin banyak perkebunan swasta di Jember dan sekitarnya pada sekitar pertengahan abad ke 19.
Rujukan: Arifin E.B, 2006. Pertumbuhan kota Jember dan munculnya budaya Pandhulungan. Makalah konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta 2006.
Komentar